Squat: Orang Pendek vs Orang Tinggi
Beza squat orang tinggi vs orang pendek memang ketara, sebab nisbah panjang femur, tibia dan torso berbeza. Ini mempengaruhi biomekanik, sudut sendi dan gaya squat yang paling efisien.
1. Perbezaan Biomekanik
Orang Tinggi (torso panjang / femur panjang)
- Lebih cenderung ke depan: Disebabkan femur panjang, lutut tak boleh terlalu jauh ke depan tanpa hilang balance, jadi pinggul perlu bergerak jauh ke belakang ? torso jadi lebih condong.
- Tekanan lebih pada pinggul & posterior chain (glutes, hamstring, lower back).
- Depth lebih susah capai: Perlukan lebih mobiliti pinggul & buku lali untuk squat dalam.
- Rasa squat lebih macam “hip hinge“.
Orang Pendek (torso lebih pendek / femur pendek)
- Lebih tegak: Nisbah femur pendek membolehkan lutut bergerak lebih ke depan tanpa hilang keseimbangan ? torso lebih upright.
- Tekanan lebih pada quadriceps.
- Depth lebih senang capai: Lebih mudah untuk squat dalam tanpa perlu torso condong.
- Rasa squat lebih “knee dominant”.
2. Faktor Torso
- Torso Panjang: Lebih stabil bila squat sebab center of mass dekat, tapi kena lebihkan core engagement untuk elak lean berlebihan.
- Torso Pendek: Lebih natural upright position, senang buat squat “Olympic style”, tapi kadang cepat “bottom out” (terlampau laju turun).
3. Implikasi Praktikal
- Orang tinggi biasanya lebih sesuai guna low bar squat atau stance lebih lebar untuk kurangkan torso lean. Variasi seperti box squat, safety bar squat juga membantu.
- Orang pendek lebih selesa dengan high bar squat atau front squat sebab badan lebih tegak dan leverage baik pada quads.
- Pemilihan stance (lebar / sempit), kedudukan bar, kasut lifter (tumit tinggi) semua bergantung pada nisbah tulang & mobiliti.
4. Kesimpulan
- Tiada squat “sama rata” untuk semua orang.
Struktur badan (tinggi/rendah, femur panjang/pendek, torso panjang/pendek) menentukan teknik terbaik. - Yang penting: squat ikut anatomi sendiri ? jaga neutral spine, depth mengikut kemampuan mobiliti, dan pilih variasi squat yang sesuai untuk capai tujuan (kekuatan, hipertrofi, strength, atau sukan-spesifik).
Rujukan
-
Schoenfeld, B. J. (2010).
Squatting kinematics and kinetics and their application to exercise performance.
Journal of Strength and Conditioning Research, 24(12), 3497–3506.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20182386/ -
Hartmann, H., Wirth, K., & Klusemann, M. (2013).
Analysis of the load on the knee joint and vertebral column with changes in squatting depth and weight load.
Sports Medicine, 43(10), 993–1008.
https://link.springer.com/article/10.1007/s40279-013-0073-6 -
Swinton, P. A., Lloyd, R., Agouris, I., & Stewart, A. (2012).
Contemporary training practices in elite British powerlifters: survey results from an international competition.
Journal of Strength and Conditioning Research, 26(2), 380–384.
https://rke.abertay.ac.uk/files/8519522/LloydJourStrengthConditionResAuthor2009.pdf -
Bryanton, M. A., Kennedy, M. D., Carey, J. P., & Chiu, L. Z. F. (2012).
Quadriceps effort during squat exercise depends on hip extensor muscle strategy.
Medicine & Science in Sports & Exercise, 44(10), 1765–1773.
https://www.researchgate.net/profile/Michael-Kennedy-7/publication/275278734_Quadriceps_effort_during_squat_exercise_depends_on_hip_extensor_muscle_strategy/links/554022f10cf2320416ecf4c4/Quadriceps-effort-during-squat-exercise-depends-on-hip-extensor-muscle-strategy.pdf




